Kesunahan dalam Bulan Rajab

Bulan Rajab merupakan salah satu bulan haram yang memiliki kemuliaan tersendiri. Dalam surah at-Taubah [9] ayat 36, bulan Rajab termasuk bulan haram [asyhurul hurum]. Di bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan dan ketaatan, serta menghindari kemaksiatan. 

Anjuran-anjuran tersebut dimaksudkan dalam rangka menanam amaliah saat bulan Rajab untuk kemudian menuai hasilnya di bulan-bulan yang akan datang. Pada bulan Rajab, pintu-pintu rahmat Allah SWT dibuka lebar-lebar. Pahala amal kebaikan yang dikerjakan di bulan ini akan dilipatgandakan. Oleh karena itu, umat Islam hendaknya memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan.

Salah satu hal yang sangat dianjurkan di bulan Rajab adalah memperbanyak berdoa kepada Allah swt. Sebab, bulan ini merupakan salah satu bulan yang sangat dimuliakan dalam Islam, hal itu karena terdapat salah satu peristiwa luar biasa yang terjadi di dalamnya, yaitu Isra dan Mi’raj.

Para ulama ahli sejarah berbeda pendapat perihal waktu terjadinya Isra Mi’raj. Ada yang mengatakan terjadi pada bulan Rajab, ada juga yang mengatakan bulan Rabiul Awal, dan ada yang mengatakan bulan Rabiul Akhir. Hanya saja, dari semua pendapat tersebut yang paling kuat adalah yang mengatakan terjadi pada bulan Rajab, tepatnya pada malam Sabtu, tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh setelah kenabian (nubuwah).

 

Salah satu amaliah yang dapat dilakukan pada malam 27 Rajab adalah berdoa kepada Allah swt, dengan salah satu doa telah dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Abdullah bin Hasan al-Halabi al-Qadiri. Dalam kitabnya beliau menjelaskan bahwa doa berikut memiliki khasiat yang sangat luar biasa

مَنْ قَرَأَ بِهَذَا الدُّعَاءِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ مِنْ رَجَبَ ثُمَّ يَسْأَلُ الله حَاجَتَهُ فَاِنَّهَا تُقْضَى بِاِذْنِ اللهِ

Artinya, “Barang siapa yang membaca doa ini pada malam 27 Rajab, kemudian meminta kepada Allah (untuk dipenuhi) kebutuhannya, maka akan dipenuhi kebutuhannya dengan izin Allah.” (Abdullah al-Halabi, Nurul Anwar wa Kanzul Abrar fi Dzikris Shalati ‘alan Nabi al-Mukhtar, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: tt], halaman 38).

Sedangkan teks doanya adalah sebagai berikut:

اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِمُشَاهَدَةِ أَسْرَارِ الْمُحِبِّيْنَ، وَبِالْخَلْوَةِ الَّتِي خَصَّصْتَ بِهَا سَيِّدَ الْمُرْسَلِيْنَ حِيْنَ أَسْرَيْتَ

 بِهِ لَيْلَةَ السَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ أَنْ تَرْحَمَ قَلْبِيَ الْحَزِيْنَ وَتُجِيْبَ دَعْوَتِيْ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ

Allāhumma innī as’aluka bi musyāhadati asrāril muhibbīn, wa bil khalwatil latī khashshashta bihā sayyidal mursalīn hīna asraita bihī lailatas sābi’i wal ‘isyrīn an tarhama qalbiyal hazīna wa tujība da‘watī yā akramal akramīn.

Artinya, “Ya Allah, dengan keagungan diperlihatkannya rahasia-rahasia orang-orang pecinta, dan dengan kemuliaan khalwat (menyendiri) yang hanya Engkau khususkan kepada pimpinan para rasul, ketika Engkau memperjalankannya pada malam 27 Rajab, sungguh aku memohon kepada-Mu agar Kaumerahmati hatiku yang sedih dan Kau mengabulkan doa-doaku, wahai Yang Maha Memiliki kedermawanan.”

Faedahnya Syekh Abdurrahman bin Abdussalam as-Syafi’i (wafat 893 H) dalam salah satu kitabnya menjelaskan faedah dari doa tersebut, beliau mengatakan bahwa siapa saja yang membacanya pada tanggal 27 Rajab, kemudian menyebutkan hajatnya kepada Allah, maka Dia akan mengabulkan segala hajatnya, melapangkan urusannya, dan menghidupkan hatinya ketika hati-hati manusia sudah mulai mati. (Syekh Abdurrahman, Nuzhatul Majalis wa Muntakhabun Nafaiz, [Beirut, Darul Kutub Ilmiah: 1999], juz I, halaman 94).

Sedangkan tata cara pembacaannya adalah sebagai berikut,

Pertama, shalat sunnah dua rakaat sebagaimana shalat sunnah pada umumnya.

Kemudian membaca surat Al-Ikhlas setelah membaca surat Al-Fatihah di rakaat pertama dan kedua.

Kedua, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad sebanyak 10 kali.

Ketiga, membaca doa tersebut, kemudian menyebutkan segala hajat-hajatnya.

Demikian penjelasan perihal doa 27 Rajab, mulai dari faedah dan tata caranya.

Semoga bisa bermanfaat dan semua hajat dipenuhi oleh Allah swt. Wallahu a’lam.

 

Sumber: Nuonline.com

Share :