KH. Manshur Jaelani Kudus; Sosok Kiai Sederhana Cendono

KH. Manshur atau biasa dipanggil Yi Manshur, bagi orang Kudus utamanya warga kecamatan Dawe tentu mendengar nama beliau sudah tidak asing lagi. Sosok kiai asal desa Cendono kecamatan Dawe kabupaten Kudus ini terkenal dengan kiai yang sederhana, alim, santun, lemah lembut, wira’i, tawadlu’, istikomah dalam berdakwah dan mengajar, serta terkenal memiliki banyak keramat atau keistimewaan.

Lahir
Kiai Manshur dilahirkan di desa Grogolan, dukuh Sekti, kecamatan Tayu, kabupaten Pati, Jawa Tengah pada tahun 1922 M. Nama asli beliau adalah Shodiq, kemudian selepas ibadah haji yang pertama pada tahun 1954 M nama beliau berubah menjadi Manshur. Sementara nama Jaelani diambil dari nama ayahnya, yaitu Mbah Jaelani, sehingga nama beliau menjadi Manshur Jaelani.

Menuntut Ilmu
Kiai Manshur mulai belajar ilmu agama di tempat kelahiranya yakni, di desa Grogolan, kemudian melanjutkan pendidikan pesantren di Kajen dibawah asuhan Mbah KH. Abdullah Salam (Kakek KH. Sahal Mahfudz). Setelah itu, beliau melanjutkan mengembara ilmu di Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Kholil Rembang, hingga kemudian mondok di Pesantren Tebuireng dibawah asuhan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari.
Jejak Kiai-kiai yang pernah menjadi guru Kiai Manshur sulit ditemukan, mengingat Kiai Manshur sendiri jarang bercerita kepada siapa saja beliau pernah berguru. Namun yang jelas Kiai Manshur sosok yang sangat haus akan ilmu, hal ini dibuktikan dengan perjalanan panjang beliau menuntut ilmu ke berbagai daerah untuk mondok, berguru kepada ulama-ulama di Tayu, Lasem Rembang, hingga Jombang, Jawa Timur.

Menikah
Pernikahan beliau mungkin tergolong unik, mengingat calon mertua beliaulah yang mendatangi keluarga Kiai Manshur untuk meminta restu dan meminang Kiai Manshur sebagai calon menantunya. Awalnya KH. Sholeh (Mertua Kiai Manshur) silaturrahim ke pondok Mbah Abdullah Salam, di pondok tersebut Kiai Sholeh melihat ada salah satu santri unggulan yang cerdas, santun dan berbakat, tidak lain beliau adalah Kiai Manshur yang saat itu masih mondok di Pesantren Mbah Abdullah Salam Kajen.
Singkat cerita, beliau dinikahkan dengan putri KH. Sholeh yakni, Ibu Nyai Hj. Aminah. Kiai Sholeh sengaja mengambil menantu santri yang alim, karena memiliki misi untuk bisa membantu mengembangkan dan memajukan agama di wilayah Muria Raya, khususnya Cendono. Kiai Sholeh sengaja mencari santri-santri yang hebat untuk dijadikan menantu, dan kemudian diboyong ke Cendono untuk mengembangkan Islam di wilayah tersebut.

Selepas menikah Kiai Manshur diminta mertuanya untuk membantu usahanya, hingga akhirnya Kiai Manshur memiliki banyak usaha di bidang peternakan dan pertanian, bisa dikatakan beliau termasuk orang kaya, namun walaupun beliau kaya, beliau tetap tampil sederhana dan tidak bergantung pada duniawi, hal ini bisa dilihat dari kendaraan yang dipakai beliau ketika mengajar beliau hanya menaiki sepeda yang sudah tua. Meksi sebenarnya beliau mampu membeli motor atau mobil.
Selain Kiai Manshur memiliki banyak usaha, beliau tidak lupa akan kewajibannya menyebarkan ilmu dan berdakwah. Bersama saudara iparnya, yakni KH. Abdul Muchith, beliau merintis dan membangun kemajuan Madrasah Miftahul Falah Cendono hingga akhir hayatnya. Selain beliau mengajar di Madrasah Miftahul Falah, Kiai Manshur juga mengajar di pondok pesantren yang beliau dirikan, yakni pondok pesantren putra-putri as-Syafiiyyah dan juga banyak mengisi pengajian-pengajian di berbagai daerah, utamanya di Kecamatan Dawe.

Memiliki Banyak Keramat atau Keistimewaan
Selain Kiai Manshur terkenal dengan kealimanya, beliau juga terkenal dengan kiai yang memiliki banyak keramat atau sakti, dan keistimewaan. Sekalipun beliau bukan seorang mursyid thoriqoh, KH. Manshur adalah sosok yang zuhud, istikomah dan memiliki ilmu linuweh seperti halnya weruh sak durunge winarah. Kiai yang khariqul adat ini banyak dirasakan oleh masyarakat tentang keanehan yang beliau miliki.


Kiai Manshur memiliki kemampuan “Sapu Angin”yakni berjalan cepat. Kemampuan berjalan beliau dan kecepatannya melebihi rata-rata pejalan kaki pada umumnya. Meskipun beliau berada di usia lanjut atau sepuh, beliau mampu berjalan cepat, hingga terkadang santri yang mendampingi beliau kewalahan dan keteteran mengejar beliau, bahkan santri beliau kadang sampai berlari karena tertinggal jauh jarak ketertinggalanya. Sekalipun santri-santri beliau masih muda, namun tetap kalah cepat dengan jalannya Kiai Manshur.

Konon, ketika ada salah satu santri yang hendak mencuri tebu di sawah, tatkala hendak memotong pohon tebu tersebut, tiba-tiba santri tersebut mendengar suara Kiai Manshur di sampingnya (waqila; suara tersebut dari dalam tebu) yang seolah-olah mengingatkan jangan mencuri, hingga membuat santri tersebut ketakutan dan akhirnya lari terbirit-birit, ketika lari bertemu santri lain dan bilang “Ono Yi Manshur”, dan anehnya padahal pada waktu yang sama KH. Manshur sebenarnya sedang mengaji di Masjid bersama santri-santri.

Kemudian kiai manshur juga memiliki kesehatan mata yang luar biasa, sejak muda sampai tua bahkan akhir hayatnya beliau membaca kitab kuning yang tergolong kecil-kecil dengan mata telanjang tanpa kaca mata, dan itupun dilakukan dengan jarak yang normal atau ideal menurut ukuran kesehatan mata. Sebenarnya banyak keistimewaan dan keanehan yang beliau miliki yang banyak dirasakan oleh masyarakat luas, utamanya santri-santri beliau.

Nasehat

Nasehat Kiai Manshur yang ringan tapi memiliki makna yang luar biasa, yakni
“Yen seliramu kabeh pengin hasil maksud mongko; mangano seng enak lan turuo seng kepenak.”
Maksud “Mangano seng enak” di sini adalah bahwa jangan pernah makan sebelum kamu benar-benar lapar dan mendapatkan makanan yang halal. Sebab dalam kondisi lapar, makan apapun/seadanya akan terasa enak dan nikmat. Begitu juga makanan yang halal akan membuat rasa nyaman dan aman dalam diri. Sedangkan maksud “turuo seng kepenak” adalah bahwa santri harus berani riyadhoh dan tirakat jika ingin berhasil yaitu, dengan mengurangi tidur. Jika dalam kondisi ngantuk berat karena belajar, bekerja, beribadah, dzikir, wirida maka tidur akan terasa nikmat walau hanya beralas tikar seadanya, bahkan tanpa tikar sekalipun.
Wafat

Pada Kamis malam Jum’at, KH. Manshur Jaelani kembali ke Rahmatullah. Langit terasa redup seolah ikut menangisi kepergian beliau sosok kiai sederhana yang mendedikasikan untuk kepeningan umat. Ribuan pelayat dari berbagai daerah dan kota, serta dari berbagai kalangan baik pejabat, santri, maupun masyarakat luas datang untuk menghantarkan beliau bertemu sang Kekasih. Kiai Manshur dimakamkan di pemakaman umum di belakang masjid Raudhatus Shalihin Cendono, Dawe, Kudus, Jawa Tengah.
Wallahu ‘alam.

Sumber: jaringansantri.com, ditulis oleh Muhammad Alvin Jauhari, Ketua PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Santri Pondok Pesantren al-Jihad Surabaya, Mahasiswa Hubungan Internasional UIN Sunan Ampel Surabaya, Alumni Madrasah NU TBS Kudus dan Pesantren Tebuireng Jombang.

Share :